Tentang Kami

My photo
Gunungsitoli, Nias, Indonesia
Menuju masyarakat resilien: memadukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dengan pengurangan resiko bencana Towards resilient community: integrated community development & empowerment with disaster risk reduction

Friday, October 23, 2009

KEGIATAN TANGGAP DARURAT UNTUK BENCANA BANJIR BANDANG DI MADINA - SUMATERA UTARA

Banjir Madina

15 September 2009 desa-desa di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara dilanda banjir bandang. Banjir ini sebenarnya merupakan banjir tahunan yang melanda daerah itu, tapi biasanya banjir tidak sampai membahayakan manusia dan pemukiman. Diduga kuat karena hutan dibabat oleh praktek illegal logging maka kali ini masyarakat yang menuai akibatnya berupa banjir bandang yang dahsyat yang mengakibatkan 2000-an penduduk mengungsi karena rumah dan desa mereka terendam banjir hingga ke atap rumah. Berita di media menyebutkan korban jiwa sejumlah 38 orang namun sumber informasi Tim Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) bersama Paroki Padangsidimpuan menyebutkan 10 orang yang meninggal. Korban rata-rata anak kecil dan lansia.

Karena daerah ini merupakan wilayah pastoral Keuskupan Sibolga khususnya Paroki Padangsidimpuan maka Pihak Keuskupan dalam hal ini Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) bekerja sama dengan Paroki Padangsidimpuan melakukan kegiatan tanggap darurat menolong korban banjir bandang tersebut. Kegiatan tanggap darurat ini mendapat dukungan yang kuat dari Karina KWI dan dijalankan oleh tim Tanggap Darurat terdiri dari 4 orang relawan dari Paroki Padangsidimpuan dan Katedral Sibolga yakni Hendra Manalu, Beatus Halawa, Mindo Manalu, Fr. Sokhi Laia yang dipimpin oleh Saudara Daniel Gunawan dari tim Pengurangan Resiko Bencana CKS. Tim Tanggap Darurat Madina difasilitasi oleh Pastor Paroki Padangsidimpuan, P. Pincerius, Pr bekerja selama 17 hari, sejak 27 September s/d 13 Oktober 2009.



Proses Kegiatan

Kegiatan tanggap darurat diawali dengan asesmen cepat pada tanggal 29-30 September 2009 ke lokasi yang terkena banjir yakni Desa Huta Imbaru, Dusun Kapundung 1, Dusun Kapundung 2 dan Desa Ranto Panjang untuk mengidentifikasi kebutuhan real dan mendesak masyarakat korban banjir. Tim menemukan bahwa setelah 2 minggu pasca banjir, air sungai masih terlihat sangat keruh. Di sekitar sungai terlihat banyak kayu gelondongan yang diduga ikut terhanyut oleh arus banjir. Tebing sungai banyak yang longsor. Di keempat dusun tim berpencar mengunjungi masyarakat yang tinggal di pengungsian dan di rumah warga untuk mencari informasi.

Dari konsolidasi data asesmen cepat kebutuhan mendasar masyarakat pasca banjir 2 minggu adalah beras, minyak tanah, solar, alat tulis, katro, gerobak sorong, Alquran, jus amma, bensin, pakaian dalam perempuan, air bersih, selang, pakaian sekolah,sabun, peralatan balita, makanan balita dan sarung (lihat daftar lengkap pada update ke-2 terlampir). Kemudian tim di bawah koordinasi Pastor Paroki Padangsidimpuan memutuskan untuk membeli barang-barang kebutuhan tersebut di Padangsidimpuan. Pengadaan barang-barang itu juga difasilitasi oleh umat Paroki Padangsidimpuan dengan memberikan fasilitas transportasi dan juga sumbangan barang. Setelah barang-barang bantuan terkumpul tim tanggap darurat dibantu oleh muda-mudi paroki memaketkan barang-barang tersebut untuk disalurkan per kepala keluarga. Proses pengadaan dan pemaketan barang berlangsung selama 3 hari di pastoran Paroki Sidimpuan.

Tanggal 9-10 Oktober tim berangkat ke lokasi bencana untuk mendistribusikan bantuan (daftar paket bantuan lihat daftar lengkap pada update ke-3 terlampir). Tim yang berangkat sejumlah 23 orang terdiri dari tim tanggap darurat dibantu relawan dari mudika Paroki Sidimpuan dan mahasiswa. Tanggal 11 Oktober tim telah kembali ke Sidimpuan, 12 Oktober diadakan acara malam kebersamaan dengan para relawan di mana Pastor Paroki Sidimpuan mengucapkan terima kasih atas bantuan para relawan untuk kegiatan tanggap darurat. Para relawan juga dimotivasi untuk menjadi kontak relawan di Paroki Padangsidimpuan yang siap bekerja bila terjadi bencana.




Tim mendistribusikan bantuan kepada 1030 jiwa penduduk 4 desa yang terkena banjir bandang.

Selain masyarakat korban banjir mendapat bantuan, ada sebuah hasil lain yang juga dicapai melalui kegiatan tanggap darurat ini yakni kini Paroki Sidimpuan mempunyai sejumlah relawan yang sudah berkomitmen siap membantu bila suatu saat terjadi bencana.


Tantangan & Pembelajaran

Tantangan yang sangat berat dihadapi tim adalah medan yang sangat jauh, terpencil, dan rawan longsir. Dari Sidimpuan butuh waktu 15 jam untuk dapat mencapai lokasi banjir, 9 jam ditempuh dengan mobil dan 6 jam naik perahu. Biaya transportasi juga sangat mahal.

Tantangan lain, penduduk di keempat desa yang terkena banjir adalah 100% Muslim, pada awalnya Dandim ragu bahwa mereka akan menerima bantuan dari lembaga Kristen dan mengusulkan agar tim membawa seorang ustad. Namun tim tidak jadi membawa ustad dan berangkat dengan bermodalkan niat baik, dan ternyata tim diterima dengan hati terbuka oleh penduduk korban banjir. Bahkan kepada lembaga Kristen ini mereka meminta dibelikan Alquran (lihat daftar bantuan).

Di lokasi banjir tim tidak leluasa untuk makan di rumah penduduk karena banyak isu racun, bahkan tokoh masyarakat dan penduduk setempat mencegah tim untuk makan sembarangan, mereka menganjurkan tim untuk makan dan minum hanya di rumah penduduk yang menerima mereka untuk menginap.

Sebuah pembelajaran penting yang didapat tim, berdasarkan observasi langsung dan kesaksian masyarakat, sangat diduga kuat bencana banjir bandang ini sesungguhnya bukan bencana murni tapi efek negatif dan fatal dari praktek illegal logging yang dilakukan 6 perusahaan kayu di daerah hulu. Jutaan kubik kayu di sepanjang sungai dan di perkampungan merupakan bukti tidak terbantahkan akan adanya praktek penebangan kayu yang sangat massif dan tidak memperhitungkan keselamatan lingkungan.


Akhir Dari Kegiatan

Kegiatan tanggap darurat di Mandailing Natal ini merupakan kegiatan tanggap darurat yang dilakukan CKS bersamaan dengan respon bencana banjir di Desa Sohoya, Nias. Kegiatan ini merupakan tanggap darurat pertama yang dilakukan CKS setelah bencana besar tsunami dan gempa di Nias 2004 dan 2005. Boleh dikatakan dalam kegiatan tanggap darurat ini CKS mencoba mengimplmentasikan pengetahuan dan keterampilan tanggap darurat yang dipelajari selama ini dalam jaringan dengan keluarga Caritas dan Karina KWI. Dukungan penuh dari pastor paroki Sidimpuan P. Pinerius, Pr juga memberi kontribusi yang sangat besar bagi kegiatan ini. Untuk itu semua CKS sangat berterima kasih, kiranya untuk ke depan pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan tanggap darurat yang sistematis semakin dapat dilakukan dengan dukungan jaringan yang semakin luas. * * *(Gunungsitoli. 20 Oktober 2009)








Thursday, October 22, 2009

Study Banding PRB Jesuit Refugee Service (JRS) Di Caritas Keuskupan Sibolga (CKS).

Jesuit Refugee Service (JRS) adalah lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang pendampingan pengungsi dan juga mencegah terjadinya pengungsian. Mereka sudah bekerja sejak satu tahun lalu di wilayah Kluet-Kabupaten Aceh Selatan sekitar bulan Juli tahun 2008 yang lalu. Belakangan, dalam rangka mencegah terjadinya pengungsi akibat bencana JRS mulai mengimplementasikan program Pengurangan Resiko Bencana (PRB).

Untuk belajar lebih jauh tentang program PRB Tim JRS melakukan study banding tentang implementasi PRB di Caritas Keuskupan Sibolga yang sudah menjalankan PRBDM (PRB yang dimanajemeni masyarakat) selama kurang lebih 3 tahun. Tim JRS sejumlah 17 orang melakukan studi banding di proyek PRBDM CKS 13-16 September 2009. Mereka pergi mengunjungi komunitas-komunitas dampingan CKS, melihat kegiatan yang dilakukan masyarakat dan berdialog dengan masyarakat. Juga tim JRS melakukan belajar bersama tim PRBDM CKS selama satu hari. Belajar bersama tim PRBDM CKS diikuti oleh Direktur CKS yang menjelaskan Kebijakan, Visi dan Misi CKS, dilanjutkan dengan diskusi tentang konsep dasar dan proses implementasi PRB serta sharing pengalaman CKS dalam menjalankan PRBDM sejak pilot project Agustus 2007 hingga sekarang. Demikian pula tim JRS mensharingkan pengalaman mereka menjalankan proyek di komunitas di daerah Aceh Selatan di mana program mereka terbagi atas 3 kategori yakni School Project, Youth Project dan Community Project.


Kunjungan lapangan dilakukan tim JRS ke beberapa komunitas dampingan CKS diantaranya komunitas Luaha Moi, Siofaewali, Berua II dan salah satu komunitas sulung CKS yakni komunitas belakang Pasar Beringin. Dalam kesempatan berkunjung ini tim JRS berkesempatan untuk berdiskusi bersama fasilitator yang bertugas mendampingi di daerah ini dan juga dengan beberapa masyarakat di dusun dengan diskusi seputar proses PRB yang sudah berjalan selama ini.


Kegiatan sharing dan kunjungan lapangan yang berlangsung selama tiga hari itu mengahasilkan banyak pembelajaran peting tentang implementasi PRB di masyarakat bagi tim JRS sendiri dan begitu juga sebaliknya dengan tim PRBDM CKS.***